Proses Pentransferan Ideologi Dari Fenomena Sinetron Kepada Masyarakat Indonesia
Sinetron adalah sebuah fenomena social di kalangan masyareakat Indonesia. Hampir di setiap rumah di saat jam-jam istirahat dan waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, sinetron menjadi pilihan utama untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Hamper di setiap stasiun-stasiun televisi swasta saling berlomba menyuguhkan sinetron striping dengan berpuluh-puluh episode. Bahkan ada sinetron yang telah lebih dari lima seri dengan judul yang sama. Untuk kaum ibu-ibu dan remaja putrid, sinetron bukan sekedar teman untuk menghabiskan waktu dengan keluarga, tetapi dari itu. Sinetron sudah menjadi suatu kebutuhan tersendiri yang apa bila terlewat satu episode bahkan satu adegan mereka akan merasa akan sangat merugi, sehingga mereka akan berusaha untuk mencari tahu dengan berbagai cara. Ya itulah fenomena sinetron dalam kehidupan kita.
Tetapi apa dampak bagi si penonton? Berbicara soal dampak, dampak sendiri terbagi menjadi dua yaitu ada dampak baik/positive dan ada dampak buruk/negative. Dari sini kita akan dapat menilai, seberapa berkualitasnya acara sinetron bagi kita.
Sebelum itu marilah kita amati beberapa hal menarik dari sebuah sinetron. Diantaranya adalah:
1. Cerita pokok dari sebuah sinetron dan dari setiap stasiun televise hamper mirip. Yaitu mengisahkannseorang tokoh utama yang barasal dari keluarga yang tidak mampu menjalin kisah cinta dengan tokoh utama2 yang berasal dari keluarga yang berada. Ada pihak antagonis yang dengki kepada tokoh utama. Dan iapun berusaha untuk menyingkirkan si tokoh utama ini yang berasal dari keluarga miskin. Pihak antagonis ini rela menghalalkan segala cara untuk menyingkirkannya. Dan biasanya motivasi utamanya adalah harta. Bahakn tidak menutup kemungkinan tokoh antagonis ini masih berasal dari satu keluarga yang sama dengan tokoh utama2. Ini lah jalan cerita yang hamper selalu dipakai dalam setiap alur cerita sinetron, sehingga membuat si penonton mudah untuk menebak jalan cerita selanjutnya.
2. Pelaku-pelaku yang bermain dalam sebuah sinetron biasanya memiliki sifat atau kehidupan yang berlebihan. Mulai dari sifatnya yang tidak mempunyai peri-kemanusiaan hingga harta yang dimilikinya yang sangat berlebihan dan mencerminkan sifat masyarakat yang konsumtif. Banyak pula kehidupan-kehidupan ala barat yang bertolak belakang dengan kebudayaan kita masuk mengkontaminasikan kebudayaan atau kehidupan kita. Seperti kehidupan malam ataunlazim disebut Dugem banyak sekali ditayangkan.
3. Khususnya untuk sinetron remaja, banyak sekali adat atau noram yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita, khususnya di dalam kehidupan berpendidikan di kota besar. Seakan-akan telah hilang dan terdegradasi norma-norma yang kita anut sejak zaman dahulu. Contohnya dalam sebuah segmen cerita dalam sinetron, seorang anak perempuan yang duduk di bangku SMP yang pergi bersekolah dengan membawa mobil mewah dan memakai pakaian seragam yang ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya. Inikah kebudayaan asli kita? Jarang sekali sebuah sinetron yang lebih menonjolkan dari segi prestasi akademik. Melainkan lebih menonjolkan daris egi keglamoran anak sekolah.
Masih banyak lagi pengaruh-pengaruh negative yang dimunculkan dari sebuah sinetron di masa kini. Hal-hal itu dimunculkan hanya untuk mengejar materi semata. Apabila rating naik maka tawaran iklan pun akan mengalir. Hal-hal penting seperti unsur pendidikan dan kebudayaan yang dianggap tidak menjual ini sama sekali tidak dimunculkan dalam cerita sinetron.
Poin-poin di atas akan membawa dampak bagi penikmatnya. Ada yang positif dan tidak sedikit pula yang negatif. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Dampak Positif:
Menonton sinetron bagi sebagian kaum dapat menghilangkan stress dan kejenuhan dari berbagai aktifitas.
Dan lain-lain.
2. Dampak Negatif:
Menularkan pandangan bahwa hidup yang sejah tera itu diukur dari segi materinya. Berapa banyakkah harta yang kita miliki.
Menusupkan pandangan bahwa anakmuda yang modern itu adalh remaja yang berkehidupan glamour, sehingga dampaknya akan membuat setiap anak yang menointonnya akan merengek meminta untuk diberikan barang-barang mewah yang sebenarnya tidak begitu sangat diperlukan.
Anak kecil diajarkan sifat pemarah karena terpengaruhi oleh banyaknya adegan marah-marah yang ditayangkan oleh sinetron.
Remaja putri mulai meninggalkan adat istiadat bangsa kita dan lebih tertarik pada kebudayaan barat yang notabene bertolak belakang dengan kebudayaan kita. Dari hal berpakaian, mereka lebih menyenangi pakaian yang dapat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh mereka dan hal ini rentan akan tindak kejahatan. Selain itu mereka yang masih duduk di bangku sekolah pun diajarkan merokok. Ironis sekali memang.
Tidak sedikit anak yang berani melawan kepada orang tuanya karena terpengaruhi adegan di dalam sinetron. Orang tua dianggap sebagai sosok yang kolot dan ketinggalan zaman sehingga nasihat-nasihatnya tidak dihiraukan.
Para istri berani melawan kepada suaminya juga terpengaruhi adegan di dalam sebuah sinetron.
Anak dibawah umur telah mengenal kata pacaran terpengaruhi oleh sangat banyaknya sinetron remaja yang terlalu banyak menyuguhkan adegan berpacaran anak sekolah.
Bahkan tidak sedikit anak sekolah yang tega memerkosa teman sebayanya karena terpengaruhi acara televisi ini.
Masih banyak lagi menurut saya dampak-dampak negative yang dihasilkan oleh acara keluarga seperti ini. Apakah pembaca pun sependapat dengan penulis?
Begitu mudah pentransferan ideologi barat melalui sinetron di televise, sehingga berhasil menggeserkan norma-norma dan budaya bangsa kita yang terkenal dengan kesantunan dan tata-krama. Hal ini sangat mudah terjadi karena televise telah menjadi suatu kebutuhan primer bukan lagi sebagai kebutuhan sekunder. Bukan saja disetiap rumah akan ditemukan televisi melainkan hamper di setiap kamar akan ditemukan televisi. Sehingga mungkin televisi telah menjadi salah satu factor pembentuk landasan berfikir masyarakat modern.
Penulis: Muhammad Rafiudin
Rabu, 22 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar