Rabu, 22 April 2009

Cerpen Mukjizat dan Keramat Karya Taufiq el-Hakim

1. Metode Penelitian Secara Objektif cerpen Mukjizat dan keramat karya Taufik el-Hakim.
A. Alur
1. Sang rahib adalah seorang tokoh yang berpengaruh di antara para pemuka agama, dan juga sangat dihormati warga masyarakat di kampungnya. Beliau tinggal di kuil.
2. Suatu pagi, datang sekelompok orang. Kedatangan mereka bertujuan meminta tolong Sang Rahib untuk menyembuhkan isteri salah seorang dari mereka yang berada di desa tetangga
3. Setelah dibujuk Sang Rahib akhirnya memenuhi permintaan mereka untuk pergi bersama mereka.
4. Sang Rahib sampai di desa tujuan.
5. Di sebuah rumah di pinggiran desa itu Sang Rahib mendapati seorang perempuan yang sedang sekarat, menunggu datangnya maut.
6. Sang Rahib memberkatinya dengan doanya sehingga perempuan itu pun sembuh. Sang Rahib dijamu selama tiga hari tiga malam oleh tuan rumah sebagai rasa terima kasih.
7. Ketika Sang Rahib hendak pulang kembali ke kuil datang seorang lelaki kepadanya. Lelaki itu memohon kepada Sang Rahib menolong pamannya yang sedang sekarat.
8. Sang Rahib pergi ke rumah paman lelaki tadi.
9. Sang Rahib mendapati si sakit yang sedang sekarat di atas ranjang. Kemudian Sang Rahib mendoakannya sehingga paman lelaki tadi sembuh. Sang Rahib dijamu selama tiga hari.
10. Sang Rahib hendak kembali ke kuilnya, ketika seorang lelaki datang meminta Sang rahib untuk datang ke rumahnya, meminta berkah Sang Rahib.
11. Di rumah lelaki tersebut Sang Rahib mendapait seorang anak laki-laki yang lumpuh.
12. Ketika Sang Rahib menyentuh anak laki-laki itu anak itu menjadi sembuh dan bisa berjalan seperti biasanya. Sang Rahib pun dijamu selama tiga hari.
13. Akhirnya masa perjamuan iotu selesai. Sang Rahib bersiap-siap untuk pulang.
14. Penduduk desa diminta mengawal Sang Rahib sampai ke kuil karena saat itu jalan-jalan sudah tidak aman lagi, banyak para perampok muncul di mana-mana. Permintaan Sang Rahib pun dipenuhi.
15. Sang Rahib pulang dikawal oleh penduduk desa.
16. Dalam perjalanan Sang Rahib bercerita tentang yang terjadi selama beberapa hari ini. Dia merasa takjub dan serasa tidak memercayai apa yang telah ia lakukan.
17. Sang Rahib sebentar lagi sampai di kuil tempatnya tinggal, ketika dia menengok ke belakang, ia merasa kaget. Semua pengawal yang tadi mengikutinya sudah tidak ada di belakangnya lagi.
18. Para sahabatnya yang berlarian menghampirinya. Mereka sangat bahagia melihat Sang Rahib dalam keadaan sehat. Mereka bersyukur karena Sang Rahib pulang dalam keadaan selamat
19. Para sahabat Sang Rahib beberapa hari yang lalu mendengar bahwa Sang Rahib telah diculik oleh perampok. Kalau ingin Sang Rahib selamat mereka harus menyerahkan uang tebusan.
20. Para sahabat Sang Rahib menyerahkan uang tebusan sebanyak lima ratus pound kepada para perampok itu.
21. Para sahabatnyanyaa bertanya tentang keadaannya selama diculik. Sang Rahib menjawab bahwa ia telah mendatangkan mukjizat, yang mukjizat itu telah menghabiskan kekayaan kuil.
B. Penokohan
1. Sang Rahib sebagai tokoh utama.
2. seorang perempuan yang sedang sekarat, yang berhasil disembuhkan oleh Sang Rahib.
3. Seorang lelaki yang pamannya sedang sekarat.
4. Seorang lelaki yang disembuhkan oleh Sang Rahib.
5. Anak laki-laki yang lumpuh.
6. Para Sahabat Sang Rahib yang rela menyerahkan harta kuil untuk menebus Sang Rahib yang diculik oleh para perampok.
C. Tema
D. Biografi Pengarang
Taufiq El-Hakim dilahirkan tahun 1898 di Iskandariyah, Mesir. Ayahnya keturunan Arab Mesir dan ibunya keturunan Turki. Orang tua Taufiq El-Hakim termasuk keluarga petani kaya. Ayahnya bekerja sebagai Hakim. Masa kecil Taufiq bebas bermain dengan anak-anak petani sekampungnya. Tetapi kemudian ibunya mengurungnya dalam rumah dan tidak boleh lagi bergaul bersama mereka.
Pada usia 7 tahun, Taufiq El-Hakim dimasukkan ayahnya ke Sekolah Dasar di Damanhur. Taufiq berusaha membebskan diri dari ikatan ibunya yang memencilkanya dari kehidupan di luar rumah. Tetapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Setamat SD dia dikirim ayahnya ke Kairo untuk melajutkan belajar di Sekolah Menengah (di Indonesia: SMA), dan tinggal bersama dua orang pamannya, yang menjadi guru SD dan yang kuliah di Fakultas Teknik.
Di Kairo inilah Taufiq El-Hakim mendapat kebebasan dari otoritas ibunya dan di sela-sela kegiatan menyelesaikan sekolah menengahnya ia mulai mendalami seni suara dan seni musik yang menghantarkannya kepada seni teater. Setamatnya dari sekolah menengah, ia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Hukum. Sementara bakat seni dan sastranya mulai bangkit dalam hati dan pikirannya. Ia pun kemudian bergabung dengan para seniman muda sebayanya, seperti di antaranya dengan Mahmud Taimur. Pada tahun 1922, Taufiq menyusun beberapa naskah lakon (scenario drama) yang dipentaskan oleh grup teater Ukasyah di gedung teater Al-Azbekiyah, di antaranya : Al-Mar'ah al-Jadiidah, Al-'Ariis, dan Khootam Sulaiman. Naskah-naskah tersebut tidak diterbitkan. Hal itu mnunjukkan bahwa karya-karya tersebut dianggapnya masih belum sempurna.
Pada tahun 1924, Taufiq El-Hakim tamat dati Sekolah Tinggi Hukum. Ia merajuk pada ayahnya agar membolehkannya pergi ke Paris, dengan alasan untuk melanjutkan studi hukum di sana. Ayahnya sangat senang dan menyutujui keinginannya. Tetapi apa yang terjadi setelah Taufiq berada di Paris? Empat tahun Taufiq di Paris tanpa sesaat pun mempelajari masalah hukum. Waktu selama itu ia gunakan untuk membaca novel sebanyak-banyaknya, mendalami sastra dan teater, baik di Prancis maupun di luar Prancis. Ia juga sangat suka sekali dengan musik barat. Biaya hidup kiriman ayahnya yang kaya raya itu sangat memungkinkan baginya untuk hidup melulu dalam seni. Seluruh waktunya dihabiskan di gedung-gedung opera, konser-konser musik dan mendalami teater, sementara itu ia juga membaca sebanyak-banyaknya budaya dan intelektualitas dari masa lalu dan masa modern.
Pada tahun 1928 Taufiq kembali ke Mesir dan bekerja sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat sampai tahun 1934. Kemudian pindah menjadi Direktur Pelaksana pada Kementrian Pendidikan dan Pengajaran sampai tahun 1939. Lalu pindah ke Kementrian Sosial dengan jabatan sebagai Direktur pada Departemen Pelayanan Sosial. Meski sibuk dengan kegiatan berkaitan jabatannya, Taufiq masih tetap menulis, baik cerpen, novel dan naskah lakon (scenario darama). Pekerjaannya sebagai anggota DPR dan seringnya mengunjungi daerah-daerah dan pekampungan-pekampungan, melahirkan karya tulis berupa catatan harian berjudul Yaumiyyat an-Naib fi al-Aryaaf. Dalam catatan harian itu Taufiq menuliskan dengan cermat keadaan pekampungan Mesir dan penduduknya yang belum melek hukum dan perlakuan pemerintah terhadap mereka dengan menjelaskan aib-aib para penguasa eksekutif, legislative dan yudikatif.
Taufiq El-Hakim pensiun dari pegawai negeri dengan jabatan-jabatan resmi pemerintahnya pada tahun 1943, kemudian ia mencurahkan hidupnya untuk seni, sampai ia wafat tahun 1987. Di antara karya-karyanya yang lain adalah : Ahlu al-Kahf (novel - 1933), 'Audat ar-Ruuh (novel - 1933), Syahrazad (novel - 1934), 'Ushfuur min asy-Syarq (novel), Ahl al-Fann (kumpulan dari : tiga fragmen naskah lakon, sebuah cerpen komedi, dan dua cerpen), Al-Qoshr al-Mashaur (novel, bersama Thoha Husen - 1936), Muhammad (Biografi Nabi Muhammad saw. dalam bentuk cerita - 1936), 'Ahd asy-Syaithoon (kumpulan cerpen-cerpen sosial - 1938), Braksa au Musykilat al-Hukm (naskah lakon - 1939), Ma'saat Bigamaliyyuun (naskah lakon - 1942), Sulaiman al-Hakiim (naskah lakon), Al-Malik al-Udib (novel - 1949), Izeus (naskah lakon), dan Shofqoh (naskah lakon).

penulis:adit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar